Selamat Datang di Arsip Berita SMAN 1 Wonoayu
WONOAYU – SMAN 1 Wonoayu menyelenggarakan Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada Kamis (1/10/2026) pagi. Dilaksanakan tepat pukul 06.40 WIB di lapangan sekolah, kegiatan berlangsung dalam suasana cerah, khidmat, dan tertib.
Petugas upacara pada kesempatan kali ini dibawakan oleh Tim Paskibra Laskar Taruna SMAN 1 Wonoayu. Seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) tampak mengenakan seragam Korpri lengkap, berdampingan dalam barisan bersama mahasiswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Sebelum jalannya inti upacara, rangkaian kegiatan diawali dengan pengumuman dan penyerahan bendera hitam yang diperuntukkan bagi kelas-kelas yang belum memenuhi standar kebersihan dan kerapihan kelas.
Guru Sejarah SMAN 1 Wonoayu, M. Hafid Afandi, S.Pd., Gr. bertindak sebagai Pembina Upacara. Dalam amanatnya, beliau memaparkan kilas balik sejarah Hari Kesaktian Pancasila serta mengaitkannya dengan wawasan geopolitik global. Beliau menjelaskan bahwa pada tahun 1965, dinamika Perang Dingin dunia turut memberikan pengaruh terhadap ideologi di dalam negeri.
“Semangat persatuan menjadi kunci utama keberlangsungan sebuah bangsa”
– M. Hafid Afandi, S.Pd., Gr.
“Semangat persatuan menjadi kunci utama keberlangsungan sebuah bangsa. Kita bisa belajar dari Vietnam yang mampu merdeka berkat persatuan mereka, sementara Korea harus terpecah menjadi Korea Utara yang berpaham komunis dan Korea Selatan yang berhaluan liberal akibat gagal mempertahankan kesatuan ideologi,” ujar Pak Hafid di hadapan peserta upacara.
Beliau juga mengingatkan momentum pengibaran bendera setengah tiang pada 30 September kemarin sebagai simbol penghormatan atas gugurnya para jenderal yang dibunuh oleh PKI. Pengorbanan tersebut merupakan bukti nyata perjuangan dalam mempertahankan ideologi bangsa dari ancaman disintegrasi.
Menutup amanatnya, M. Hafid Afandi menekankan pentingnya menjaga kerukunan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari tanpa diskriminasi Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan (SARA). Mengingat mayoritas siswa SMAN 1 Wonoayu berdomisili di wilayah Kecamatan Wonoayu, beliau meminta seluruh siswa untuk tidak membeda-bedakan teman berdasarkan latar belakang agama maupun asal tempat tinggal.
Sebagai generasi penerus bangsa, para siswa diimbau untuk selalu memegang teguh pesan bersejarah Ir. Soekarno, yakni Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah), serta menjunjung tinggi Pancasila sebagai hukum dan ideologi tertinggi di Indonesia.